Kamis, 03 Mei 2012

Air konsumsi tak steril,penghuni huntara Mancasan terserang penyakit kulit SALAM – Para pengungsi yang sudah sekian lama menempati huntara Mancasan mengaku menderita penyakit kulit. Tidak hanya anak- anak, orang dewasa pun tidak luput dari serangan sakit kulit yang kebanyakan berupa gatal- gatal dan bintik- bintik merah di sekujur badan. Koordinator Huntara Mancasan, Feri Susanto mengatakan, penyakit kulit tersebut sudah diderita oleh warga sejak penggunaan air dari sumur bor. "Sudah berlangsung sejak beberapa bulan yang lalu. Kemungkinan air yang dipakai tidak higienis sehingga berdampak penyakit kulit," ujarnya kemarin. Feri menuturkan, huntara Mancasan sendiri telah mendapat bantuan dari beberapa perusahaan swasta berupa 2 tabung filter air. Adapun kegunaan dari dua tabung filter tadi adalah untuk menyaring air dari sumur bor sehingga dapat dihasilkan air yang jernih. Namun demikian, kondisi air sampai saat ini masih tetap keruh meski tiap tiga hari sekali, dirinya mengaku rutin menyaring air. "Tiap tiga hari harus difilter. Kalau tidak, air tidak bisa mengalir ke rumah- rumah warga karena tersumbat endapan berwarna kuning dari air," jelasnya. Dengan kondisi air yang tidak sejernih air normal tersebut, warga terpaksa hanya menggunakan air dari sumur bor untuk mandi dan mencuci. Sedangkan untuk kebutuhan konsumsi, mereka memilih mengambil air dari sumur timba milik salah seorang warga sekitar. Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang hingga saat ini mengaku belum mendapat laporan terkait masalah kesehatan kulit yang dialami warga Huntara Mancasan. ” Saya belum terima laporan tapi akan segara kita cek ke lapangan,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Magelang Dr. Hendarto, M.Kes. Dikatakannya, untuk penyakit gatal seperti yang dimaksud, Dinkes akan lakukan pemeriksaan lebih dahulu terhadap penyebab pastinya. "Kita belum tahu apakah penyakit itu disebabkan air yang dipakai atau karena ada warga yang terkena kemudian menularkannya pada yang lain. Sehingga belum diketahui pasti jenis penyakit gatalnya apa, gejala tanda dan apakah sudah diobati atau belum,” imbuhnya. Dia menerangkan, biasanya bila terjadi permasalahan kesehatan, Dinkes akan mendapat laporan dari Puskesmas terlebih dahulu. ”Dinas punya UPT di Puskesmas jadi kalau misal penyakit hanya terbatas di huntara sudah menjadi hal yang lumrah artinya tidak lantas mengena ke semua warga maka hal itu tidak termasuk dalam KLB, dengan laporan itu kita akan cek lagi. Dari air dan kualitas airnya. Kalau bukan dari itu bisa jadi karena penyakit musiman,” terang dia.

1 komentar: